Search Hotels

Check-in Date

calendar

Check-out Date

calendar

Thursday, 30 May 2013

Kethoprak, Pertunjukan Seni Kebudayaan Jawa

Kethoprak merupakan sebuah pertunjukkan kesenian tradisional Jawa. Kethoprak bisa dinikmati di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Pertunjukkan kethoprak saat ini pada umumnya masih bisa dinikmati dalam acara televisi daerah, siaran radio daerah dan pertunjukkan langgsung di tempat seni budaya daerah. Walau kesenian modern berhasil menyisihkan kethoprak, namun hingga saat ini kethoprak masih memiliki penggemar tersendiri. Kethoprak masa kini telah mengalami perubahan dimana alur ceritanya sudah menyesuaikan dengan permintaan penggemar.

Biasanya alur cerita dalam kethoprak menceritakan tentang kisah peperangan dan kepahlawanan yang mengandung pesan kebaikan dan kejujuran. Adapun cerita yang diangkat dalam kethoprak merupakan cerita rakyat, babad, dongeng, sejarah, legenda dan adaptasi cerita-cerita dari negara lain. Untuk cerita-cerita dari negara lain biasanya mengambil cerita yang memang terkenal, seperti Hamlet ataupun Sampek Eng Tay.Cerita-cerita lain dari berbagai buku juga sering dijadikan sebagai alur cerita dalam kethoprak.

Alur cerita yang dimainkan dalam kethoprak memiliki pemain yang disebut dengan Nayaga. Nayaga ini biasanya memainkan peran berupa adegan dialog, monolog maupun narasi. Adegan tersebut diiringi oleh tabuhan gamelan dan tembang (lagu). Pakaian yang digunakan oleh para pemain kethoprak menyesuaikan dengan alur cerita yang sedang dimainkan. Pakaian ini disebut dengan nama tetenger (pertanda).

Menurut sejarah, keberadaan awal kethoprak hanya berupa permainan untuk kaum lelaki di desa. Permainan ini biasanya diadakan pada saat bulan purnama sebagai hiburan dengan cara menabuh lesung. Lesung adalah alat untuk menumbuk padi agar menjadi beras. Karena hanya memakai lesung sebagai alat pengiringnya, permainan ini disebut dengan nama gejong lesung. Awal mula kelahiran kethoprak ini terjadi pada tahun 1887.

Seiring berjalannya waktu, permainan ini mengalami perubahan alat pengiringnya, dimana mulai ditambahkannya beberapa alat musik seperti kendang dan suling. Hingga pada tahun 1909, pertunjukan awal kethoprak dilakukan secara sempurna di depan khalayak umum.

Pertunjukan awal kethoprak ini diberi nama Kethoprak Wreksatama yang diprakarsai oleh Ki Wisangkara. Pada awal pertunjukan kethoprak ini, para pemainnya hanya terdiri dari kaum lelaki saja. Alur cerita yang dimainkan pun hanya berupa cerita dari buku seperti Darma-Darmi, Kendana-Kendidi, Warsa-Warsi dan lain-lain. Sejak awal pertunjukan, kethoprak menjadi sebuah pertunjukan yang digemari oleh masyarakat banyak. Hingga menjadi kebudayaan yang mengakar. 

Sejak saat itu kethoprak mengalami perkembangan seni dimana pertunjukan kethoprak dibuat lebih menarik dan kreatif dengan berbagai macam alur cerita. Para pemainnya juga mengalami perkembangan hingga kaum perempuan bisa turut menjadi pemeran kethoprak. Alat pengiringnya pun sudah semakin lengkap dengan adanya gamelan.

Ada enam jenis pertunjukan kethoprak yang dibedakan berdasarkan urutan lahir, yaitu:
Kothekan Lesung
Yang satu ini merupakan cikal bakal pertunjukan kethoprak yang juga disebut dengan nama gojeg lesung.

Kethoprak Lesung Wiwitan
Berupa tari-tarian yang dilakukan oleh para petani sebagai ungkapan rasa syukur mereka atas panen padi yang dilakukan. Berbagai cerita rakyat ikut mewarnai acara tari-tarian ini.

Kethoprak Lesung
Kethoprak yang berisi cerita rakyat dengan diiringi oleh beberapa alat musik seperti gendang, seruling, rebanda dan lesung.

Kethoprak Gamelan
Pengembangan dari Kethoprak Lesung dimana cerita yang dimainkan sudah berkembang dengan cerita Panji dan kostum pakaian ala Timur Tengah.

Kethoprak Gamelan Pendapa
Pertunjukan kethoprak yang diadakan di atas sebuah panggung yang berada di dalam pendopo. Cerita yang dimainkan hanya berupa cerita babad.

Kethoprak Panggung
Merupakan pertunjukkan kethoprak yang masih bisa dinikmati hingga sekarang. Cerita yang dimainkan pun bermacam-macam.

Hingga saat ini pertunjukan kethoprak masih bisa dilihat secara langsung di gedung kesenian.  Untuk wilayah Yogyakarta, kethoprak bisa dilihat di Taman Budaya Yogyakarta yang berada di antara Taman Pintar dan Pasar Beringharjo. Yuk lihat kethoprak yang tak kalah seru untuk dinikmati!

Wednesday, 29 May 2013

Congklak, Permainan Tradisional yang Ditinggalkan

Masih ingat dengan permainan congklak? Sebuah permainan tradisional yang telah ada sejak lama namun keberadaannya sekarang telah tergantikan oleh permainan hasil ciptaan teknologi. Padahal pada masanya yang notabene merupakan permainan masa kanak-kanak, congklak merupakan permainan tradisional yang mempunyai banyak peminat seperti halnya bermain layang-layang, gundu, petak umpet ataupun lompat tali.

Jika ditelusuri, permainan congklak merupakan permainan yang berasal dari Afrika atau Arab. Pada jaman dahulu, Indonesia banyak disinggahi oleh para pedagang dari berbagai penjuru dunia termasuk pedagang dari Afrika dan Arab. Para pedagang tersebut selain melakukan transaksi perdagangan, mereka juga membawa masuk permainan congklak ke Indonesia.

Congklak memiliki sebutan yang berbeda untuk setiap daerah di Indonesia. Di Jawa, congklak dikenal dengan nama dakon. Di Lampung dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi dikenal dengan nama makaotan, maggaleceng, aggalacang dan nogarata.

Di setiap wilayah tersebut juga memiliki sejarah permainan tradisional ini. Pada masa pra sejarah di Jawa Tengah, permainan congklak biasanya dimainkan oleh para petani untuk menghitung musim, mengetahui kapan waktu tanam dan panen, bahkan untuk meramal masa depan. Sedangkan di Sulawesi, permainan ini biasanya hanya dimainkan pada masa berkabung setelah ada seorang keluarga yang meninggal. Pada masanya, permainan ini dianggap tabu jika dimainkan di luar masa berkabung.

Selain di Indonesia, di beberapa negara juga bisa ditemukan permainan congklak dengan nama yang berbeda. Di negara Arab, permainan ini dikenal dengan nama mancala. Di Afrika Barat dikenal dengan nama wari dan di Nigeria dikenal dengan nama adi.

Papan Permainan dan Cara Bermain Congklak
Untuk bermain congklak diperlukan sebuah papan permainan. Papan permainan congklak ini memiliki sejumlah lekukan bulat dengan jumlah yang bervariasi dari satu tempat dengan tempat lainnya, ada yang 5, 6, 7 atau 9 lekukan di satu sisinya. Namun pada umumnya, papan permainan congklak di Indonesia memiliki 7 lekukan dan 1 lekukan induk pada masing-masing sisi. Sehingga pada satu papan permainan congklak utuh terdapat 14 lekukan dan 2 lekukan induk.

Pada masa pra sejarah, papan permainan congklak dibuat dari batu. Perubahan masa juga turut mempengaruhi papan permainan ini yang kemudian dibuat dari kayu dengan desain yang bervariasi dan ukiran di kedua sisinya. Namun seiring kemajuan jaman, dibuat pula papan permainan congklak yang terbuat dari plastik. Ada pula sebagian orang yang bermain congklak hanya dengan melubangi tanah sehingga berbentuk menyerupai papan permainan congklak, seperti yang dilakukan oleh anak-anak di Lampung. Dahulu, saking terkenalnya permainan tradisional ini, Museum of Mankind di Inggris menggelar pameran papan permainan congklak pada tahun 1997.

Untuk memainkannya dibutuhkan benda-benda kecil seperti kerang, manik-manik, kerikil atau biji-bijian yang biasanya disebut dengan nama anakan. Anakan tersebut kemudian diletakkan pada 14 lekukan di papan permainan congklak dengan masing-masing lekukan berisi 7 buah. Permainan congklak membutuhkan 2 orang pemain.

Tentukan siapa yang mulai terlebih dahulu. Jika kamu adalah pemain pertama maka kamu bisa memilih salah satu lubang dari sisimu yang telah berisi 7 anakan kemudian bergerak searah jarum jam mengisi setiap lekukan dengan 1 buah anakan termasuk lekukan indukmu. Saat anakan terakhir masuk ke dalam lekukan yang berisi anakan lainnya maka semua anakan yang ada di lekukan tersebut diambil dan melanjutkan mengisi lekukan lainnya dengan bergerak tetap searah jarum jam. Jika melewati lekukan induk lawan, maka tidak perlu mengisinya dengan anakan.

Jika anakan terakhir masuk ke dalam lekukan indukmu, maka kamu bisa memilih lekukan lain untuk bermain lagi. Namun jika anakan terakhir masuk ke dalam salah satu lekukan kosong, baik di lekukanmu atau lekukan lawan, itu tandanya pergantian pemain. Akan tetapi jika anakan terakhir tersebut masuk ke dalam lekukanmu maka seluruh anakan yang ada di lekukan sisi yang berhadapan dengan lekukanmu itu menjadi milikmu dan dimasukkan ke dalam lubang indukmu.

Jika semua lekukan sudah kosong maka permainan dimulai lagi dengan mengisi semua lekukanmu. Masing-masing lekukan berisi 7 anakan yang berasal dari anakan yang terkumpul di lekukan indukmu. Pengisiannya dimulai dari lekukan yang terdekat dengan lekukan induk. Jika jumlah anakan yang ada di lekukan indukmu tidak mencukupi untuk mengisi semua lekukanmu makan biarkan lekukan lainnya kosong dan selama melanjutkan permainan tidak boleh diisi.

Penasaran gimana serunya bermain congklak? Ayo kita hidupkan lagi permainan tradisional ini. Dijamin tak kalah seru juga dengan permainan hasil teknologi sekarang.

Monday, 27 May 2013

Tari Angguk Kulonprogo

Yogyakarta sebagai Kota Budaya memang memiliki beragam kesenian, salah satunya adalah Tari Angguk. Tari Angguk merupakan kesenian khas Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tarian daerah ini sudah ada sejak masa penjajahan Belanda dan merupakan tarian sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan panen padi di wilayahnya. Acara pertunjukkan Tari Angguk sering diadakan setelah masa panen padi di Kabupaten Kulon Progo.

Tari Angguk ini dilakukan oleh para pemuda pemudi dengan bernyanyi suka ria sambil menari dengan mengangguk-anggukkan kepala. Hal inilah yang kemudian menjadi nama tarian ini, Tari Angguk. Disebutkan bahwa Tari Angguk masuk ke Kabupaten Kulon Progo pada sekitar tahun 1950 dan merupakan pengembangan dari Tari Dolalak yang ada di Purworejo, Jawa Tengah. Pada awalnya, Tari Angguk hanya merupakan sebuah tarian hiburan semata namun seiring berjalannya waktu kini Tari Angguk sudah mulai disisipi oleh hal yang berbau mistis. Menurut cerita, dalam Tari Angguk bisa mengundang roh halus yang merasuki tubuh para penari.

Tarian ini menceritakan tentang kisah Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono yang terdapat dalam Serat Ambiyo dan biasanya dimainkan dalam waktu selama tiga hingga tujuh jam. Biasanya Tari Angguk dimainkan oleh 15 penari wanita dengan kostum menyerupai serdadu Belanda padahal pada awalnya tarian ini hanya dimainkan oleh para lelaki saja. Gerakan dalam tarian ini pun terinspirasi dari gerakan serdadu Belanda. Kostum yang dikenakan oleh para penari tersebut berupa baju hitam lengan panjang dengan rompi warna warni dan gombyok emas, sampang, sampur, topi pet hitam dengan hiasan yang terbuat dari bulu-bulu, kaos kaki merah atau kuning dan kacamata hitam.

Tari Angguk terbagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah Tari Ambyakan yang dimainkan oleh banyak penari dan terdiri dari tiga macam: Tari Bakti, Tari Srokal dan Tari Penutup. Sedangkan jenis yang kedua adalah Tari Pasangan yang dimainkan secara berpasangan dan terdiri dari delapan macam: Tari Mandaroka, Tari Kamudaan, Tari Cikalo Ado, Tari Layung-layung, Tari Intik-intik, Tari Saya-cari, Tari Jalan-jalan dan Tari Robisari.

Dalam tarian ini juga terdapat kelompok penari pengiring dan musik pengiringnya. Kelompok pengiringnya mengenakan kostum berupa baju biasa, jas, sarung dan kopiah. Sedangkan musik pengiringnya terdiri dari kendang,bedug, tambur, kencreng, rebana, terbang besar dan jedor.

Dahulu Tari Angguk mempunyai banyak peminat dan mempunyai banyak kelompok di Kulon Progo. Namun sekarang hanya tersisa sedikit kelompok yang masih bertahan untuk melestarikan tarian ini dan masih bisa ditemukan jika ada hajatan atau festival kebudayaan. Jika ingin melihat kesenian tradisional yang mulai surut ini bisa datang ke Puro Pakualaman yang mengadakan gelar tari setiap dua minggu sekali. Mari nguri-ngari kabudayan Jawi.

Tuesday, 21 May 2013

Nawu Sendang Seliran Kotagede Yogyakarta

Kotagede, sebuah kampung di Yogyakarta yang syarat akan peninggalan budaya. Hal ini berkaitan erat dengan Kerajaan Mataram Islam yang dahulu pernah mendirikan pusat pemerintahan di wilayah Yogyakarta yang sekarang bernama Kotagede. Seperti yang kita ketahui bahwa semua kerajaan yang pernah berdiri di suatu wilayah di Indonesia pasti meninggalan sejarah dan kebudayaan yang masih bisa dilihat hingga sekarang. Begitu pula dengan Kerajaan Mataram Islam yang meninggalkan sebuah tradisi kebudayaan yang masih dilakukan dan bisa dinikmati oleh masyarakat di Yogyakarta. Tradisi tersebut bernama Nawu Sendang Seliran.

Nawu Sendang Seliran merupakan acara ritual tahunan. Biasanya acara ini digelar setiap bulan Jumadil Akhir pada kalender Islam dan berlangsung di kompleks Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta. Nawu sendang merupakan bahasa Jawa yang terdiri dari dua kata: nawu yang berarti menguras atau membersihkan; dan sendang yang berarti kolam besar. Sehingga nawu sendang berarti menguras atau membersihkan kolam besar.

Prosesi acara ritual ini memang dilaksanakan dengan menguras Sedang Seliran yang berada di kompleks makan raja-raja Mataram dan Masjid Agung Kotagede pada pagi hari sekitar pukul 09:00 WIB. Terdapat dua sendang seliran dengan nama Sendang Seliran Kakung dan Sendang Seliran Putri. Sendang Seliran Kakung diperuntukkan bagi kaum laki-laki dan Sendang Seliran Putri diperuntukkan bagi kaum perempuan. Menurut cerita, ada yang mengatakan pemberian nama Sendang Seliran dikarenakan sendang ini diselirani (dikerjakan) oleh Ki Ageng Mataram dan Panembahan Senopati. Namun ada pula yang mengatakan bahwa pemberian nama tersebut dikarenakan air di sendang ini bersumber dari makan selira (badan) Panembahan Senopati. Tidak ada keterangan yang jelas kapan dimulainya acara ritual ini. Namun banyak yang meyakini bahwa acara ritual ini ada setelah sendang dibuat.

Di masa dahulu, acara ritual ini hanya sebatas acara tradisi saja. Namun kini prosesi acara ini sudah tampil secara meriah yang melibatkan masyarakat umum. Pada saat acara dilangsungkan, masyarakat Kotagede maupun dari luar Kotagede akan berbondong-bondong untuk melihat dan menikmati prosesi acara ritual ini.

Prosesi acara nawu sendang dimulai dengan acara kirab budaya Ambengan Agung dari Kelurahan Jagalan yang menuju kompleks Masjid Agung Mataram Kotagede. Dalam kirab ini terdapat gunungan, ubo rampe, siwur (gayung) dan jodhang (gentong) yang diarak oleh pasukan kirab yang terdiri dari ratusan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Terdapat pula miniatur Masjid Agung Mataram Kotagede yang dibawa oleh bregodo (prajurit) Kasultanan Yogyakarta.Gunungan yang diarak tersebut berisi hasil bumi dan sejumlah icon makanan tradisional seperti kipo, banjar, yangko dan roti kembang waru.

Setibanya di Kompleks Masjid Agung, dilakukan acara sambutan dari beberapa tokoh yang hadir dalam acara Nawu Sendang Seliran. Setelah itu dilakukan acara penyerahan siwur dan jodhang kepada para petugas penguras sendang. Kemudian mereka membawa siwur dan jodhang tersebut menuju Sendang Seliran dan mengambil airnya sebagai simbol pengurasan sendang tersebut. Pengambilan air ini biasanya dilakukan oleh abdi dalem yang menjadi petugas penguras sendang dan para tokoh yang hadir.

Bersamaan dengan acara pengambilan air di sendang tersebut, di halaman Masjid Agung Kotagede diadakan acara rayahan yaitu berebut panganan atau hasil bumi yang menghiasi gunungan. Oleh masyarakat luas di Yogyakarta dipercayai jika seseorang berhasil ngrayah (mengambil) beberapa hiasan gunungan tersebut maka orang tersebut akan mendapatkan berkah.

Setelah acara simbolisasi pengurasan selesai kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama atau kenduri. Selepas kenduri dilanjutkan dengan menuju ke Sendang Seliran untuk menguras sendang tersebut. Kali ini masyarakat boleh turut serta menguras sendang ini. Biasanya dari mulai anak-anak hingga orang tua ikut nyemplung bersama di Sendang Seliran untuk menguras. Suasana acara Nawu Sendang Seliran ini bisa dipastikan sangat meriah karena seluruh warga masyarakat bisa terlibat di dalamnya.

Acara berlanjut pada malam harinya dengan menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Pertunjukan wayang kulit ini menjadi acara penutup sekaligus menjadi acara ruwatan. Ruwatan yang dimaksud adalah agar warga mendapatkan keselamatan, terbebas dari segala halangan dan mencapai kehidupan yang ayom, ayem dan tentrem (aman, bahagia dan damai di hati).

Transportasi
Jika terlewat Nawu Sendang Seliran pada tahun ini, pastikan mencari info terlebih dahulu kapan acara ini akan digelar pada tahun berikutnya agar jangan sampai ketinggalan. Bagi warga Yogyakarta bisa mengendarai kendaraan menuju Kotagede. Sedangkan bagi pengunjung dari luar Yogyakarta bisa menggunakan ojek, kendaraan sewa maupun angkutan umum. Untuk angkutan umum bisa naik bus Trans Jogja dengan trayek ke Kotagede. Dari shelter bus Trans Jogja Kotagede dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Kelurahan Jagalan atau langsung menuju ke Kompleks Masjid Agung Mataram Kotagede.

Obyek Wisata

Artikel berikutnya »

Kuliner

Artikel berikutnya »

Akomodasi

Artikel berikutnya »

Seni dan Budaya

Artikel berikutnya »
 
Copyright © www.halowisata.com
Bantul, Yogyakarta, Indonesia
DMCA.com